PERSISJABAR.OR.ID – Pemudi Persatuan Islam (Pemudi PERSIS) terus menguatkan fondasi kaderisasi melalui penanaman nilai amanah dan loyalitas. Hal tersebut disampaikan oleh Siti Rohmah Kurniasih dalam kegiatan Upgrading Tasykil PC se-PD Kabupaten Bandung yang digelar di Sekolah Alam SMP Prima Cendikia Islami (PCI), Ahad 18 Januari 2025.
Mengusung tema “Loyal dalam Barisan, Tangguh dalam Perjuangan”, Siti Rohmah menegaskan bahwa setiap amanah tasykil yang diterima kader sejatinya adalah ruang kebaikan dan kesempatan bertumbuh yang Allah Swt. titipkan, baik untuk penguatan pribadi maupun kemajuan jam’iyyah.
“Tidak boleh menolak jabatan. Allah memberi peluang kepada kita untuk meng-upgrade diri. Manusia, jika tidak dipaksakan, sering kali sulit berkembang,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa amanah bukan sekadar tanggung jawab organisatoris, melainkan ladang pahala yang bernilai dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap peran dalam jam’iyyah harus disikapi dengan kesungguhan, keikhlasan, dan kesiapan untuk berproses.
Dalam pemaparannya, Siti Rohmah juga mengulas berbagai tantangan dakwah Pemudi PERSIS yang kerap hadir secara halus namun berpotensi melemahkan organisasi. Salah satunya adalah individualisme, ketika dakwah dijalankan berdasarkan selera pribadi, bukan berpijak pada pedoman dan aturan jam’iyyah.
Selain itu, ia menyoroti fenomena aktivisme instan, yakni semangat yang menggebu di awal namun melemah di tengah jalan, serta menurunnya militansi kader dalam menjaga kesinambungan perjuangan organisasi.
Untuk menguatkan pesannya, Siti Rohmah mengutip QS. Ash-Shaff ayat 3, yang menegaskan pentingnya kesesuaian antara ucapan dan perbuatan sebagai fondasi dalam berorganisasi dan berdakwah.
Dalam pembahasan mengenai loyalitas, ia menjelaskan bahwa dalam Islam, loyalitas dimaknai sebagai Al-Walā’, yaitu kesetiaan kepada kebenaran, kepada jalan Allah Swt., dan kepada barisan orang-orang beriman.
“Loyalitas dalam organisasi bukanlah loyalitas buta. Selama pimpinan tidak berada dalam kemaksiatan, maka ketaatan adalah bagian dari komitmen kader,” tegasnya.
Menurutnya, loyalitas sejati justru diuji ketika kader dihadapkan pada keputusan yang tidak selalu sejalan dengan keinginan pribadi. Kader yang loyal dapat dilihat dari ketaatannya terhadap keputusan jam’iyyah, kemampuannya menahan ego dan perasaan, serta kesungguhannya menjaga marwah Pemudi PERSIS, baik dalam lisan, sikap, maupun di ruang digital.
Menutup pemaparannya, Siti Rohmah menyampaikan beberapa strategi untuk membangun loyalitas kader, di antaranya: menanamkan kesetiaan pada nilai bukan pada figur, memberikan ruang keterlibatan agar tumbuh rasa memiliki, serta membangun adab jam’iyyah melalui musyawarah, tabayun, dan islah.
“Pemudi PERSIS tidak memerlukan kader yang sempurna, tetapi kader yang loyal dan mampu bertahan ketika diuji,” pungkasnya.
Penulis: Ira Riana (Bidgar Seni Budaya PD Pemudi PERSIS Kab. Bandung)

