PERSISJABAR.OR.ID — Pimpinan Wilayah Persistri Jawa Barat kembali menggelar program unggulannya, yakni Kajian Islam Intensif “Rihlah Dakwah” Zona III. Kegiatan yang berlangsung di Masjid Agung Kota Sukabumi tersebut diikuti lebih dari 1.200 peserta dari berbagai daerah.
Acara ini merupakan kolaborasi antara PD Persistri Kota Sukabumi, PD Persistri Kabupaten Sukabumi, PD Persistri Kabupaten Cianjur, dan PD Persistri Kabupaten Bandung Barat yang tergabung dalam Zona III. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta, yang terdiri atas jajaran tasykil PW dan PD Persistri, anggota, serta simpatisan.
Penguatan Jami’yyah

Kegiatan dibuka dengan penyampaian materi bertajuk “Menjadi Persistri Hebat (Penguatan 7 Pembiasaan Persistri Hebat)” oleh Ketua PW Persistri Jawa Barat, Hj. Ai Nurjanah, M.Ag. Dalam pemaparannya, ia menegaskan pentingnya pembiasaan amal saleh dalam membentuk pribadi muslimah yang unggul.
Adapun tujuh pembiasaan Persistri Hebat yang dipaparkan meliputi:
- Pembiasaan saum sunah
- Pembiasaan salat sunah
- Pembiasaan sedekah
- Pembiasaan interaksi dengan Al-Qur’an
- Pembiasaan thalabul ‘ilmi
- Pembiasaan amal saleh
- Pembiasaan menghargai kebaikan dan meninggalkan dosa sekecil apa pun
“Melalui tujuh pembiasaan ini, kami berharap anggota Persistri semakin kuat keimanannya, luas wawasannya, dan mantap komitmennya dalam dakwah,” ujar Ai Nurjanah.
Materi Kedua: Mengukir Jejak Kebaikan

Sesi selanjutnya disampaikan oleh Ustadzah Hj. Ella Kamilawatie, S.Pd.I., M.Pd., Daiyah PW Persistri Jawa Barat, dengan tema “Mengukir Jejak Kebaikan bersama Persistri” yang dimoderatori oleh Hj. Elis Nurhayati, M.Pd.

Ia menyampaikan pesan penting dari sebuah hadits tentang konsep ihsan.
“Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Dia melihatmu. Anggaplah dirimu sebagai orang yang telah mati, dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena doa mereka mustajab,” tuturnya mengutip hadits tersebut.
Hadits itu dinilai hasan atau sahih oleh beberapa ulama, termasuk Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’, dan diriwayatkan antara lain oleh Zaid bin Arqam melalui Abu Nu‘aim serta Abu Ad-Dardā’ melalui Ath-Thabrani dalam Al-Kabir.
Penulis: Iit Rosita

