PERSISJABAR.OR.ID – Pimpinan Wilayah (PW) Persatuan Islam (Persis) Jawa Barat menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas kesehatan warga pesantren melalui kegiatan bakti sosial bertajuk “Bersih-Bersih Telinga dan Edukasi Kesehatan Pendengaran” di Pesantren Persis 38 Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Ahad (21/6/2026).
Kegiatan ini merupakan kali kedua diselenggarakan hasil kolaborasi antara PW Persis Jawa Barat dan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI). Sebelumnya, program serupa telah dilaksanakan di Pesantren Persis 50 Lembang.
Pelaksanaan bakti sosial yang bertepatan dengan Haflah Imtihan Pesantren Persis 38 tersebut merupakan hasil kerja sama Departemen Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher (THT-BKL) FK UNJANI/RS Dustira, PW Persis Jawa Barat, Pesantren Persis 38 Padalarang, Perhimpunan Ahli THT-KL (PERHATI-KL) Jawa Barat, serta Komda PGPKT Kota Cimahi.
Ratusan peserta yang terdiri atas santri, asatidz, dan orang tua mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari pemeriksaan telinga, tindakan pembersihan telinga (ear cleaning), edukasi kesehatan pendengaran, hingga konsultasi medis yang dipandu langsung oleh tim dokter dan tenaga kesehatan.
Pimpinan Pesantren Persis 38 Padalarang, H. Hasan Nasir, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kesehatan merupakan aspek penting dalam pembinaan santri di lingkungan pesantren.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan para santri. Lingkungan pesantren tidak hanya fokus pada pembinaan ilmu dan akhlak, tetapi juga kesehatan jasmani sebagai penunjang utama aktivitas belajar dan ibadah,” ujarnya.
Senada dengan itu, Bidang Garapan Pendidikan PW Persis Jawa Barat, H. Bubun Farhabun, S.Pd.I., menilai kolaborasi lintas sektor menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan pesantren.

“Kegiatan ini merupakan contoh nyata sinergi antara dunia pendidikan, organisasi Persis, dan tenaga medis. Kami berharap program seperti ini dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak pesantren di Jawa Barat,” katanya.
Sementara itu, perwakilan Departemen THT-BKL FK UNJANI, dr. Asti Kristianti, Sp.THT-BKL., M.Kes., menuturkan bahwa edukasi kesehatan pendengaran sejak usia dini memiliki peran penting dalam mencegah berbagai gangguan telinga di masa mendatang.
“Banyak gangguan telinga yang sebenarnya dapat dicegah melalui edukasi sederhana. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pemahaman sekaligus pelayanan langsung kepada para santri agar lebih peduli terhadap kesehatan pendengaran mereka,” jelasnya.
Selain pemeriksaan dan pembersihan telinga, kegiatan juga diisi dengan penyuluhan mengenai pentingnya menjaga kesehatan pendengaran serta sesi konsultasi medis bagi peserta. Seluruh rangkaian berlangsung tertib dan mendapat sambutan antusias dari para santri, asatidz, maupun orang tua.
Dari pelaksanaan kegiatan tersebut, sejumlah capaian berhasil diraih, di antaranya meningkatnya kesadaran peserta mengenai pentingnya menjaga kesehatan telinga, ditemukannya beberapa kasus gangguan telinga ringan yang dapat segera ditangani, serta tumbuhnya kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat di lingkungan pesantren.
Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi dakwah sosial Persis di bidang kesehatan. Melalui sinergi antara organisasi, institusi pendidikan, dan tenaga medis, PW Persis Jawa Barat berharap program serupa dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren.

