PERSISJABAR.OR.ID – FamCamp Muda-Mudi Kabupaten Bandung sukses digelar, yang melibatkan unsur Pemuda, Pemudi, HIMA, HIMI, IPP, dan IPPI di PCI Pangalengan.
Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah Seminar Kejam’iyyahan yang menghadirkan H. Irfan Firmansyah atau Abah Ifank sebagai pemateri utama.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berkumpul antar kader, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk mempererat komunikasi dan memperkuat sinergi antar badan otonom di lingkungan jamiyyah.
Dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan, peserta diajak memahami makna berorganisasi secara lebih mendalam.
Pada sesi interaksi yang dipandu Ketua IPP, Hisyam, menuturkan bahwa kekuatan organisasi tidak semata-mata terletak pada struktur, melainkan pada kemampuan setiap elemen untuk saling mengenal dan menguatkan.
Berbagai simulasi games interaktif juga dilakukan untuk membangun kedekatan emosional antarpeserta.
Peserta diajak merefleksikan bahwa keberadaan seseorang hari ini merupakan hasil dari rangkaian interaksi panjang dengan banyak orang. Filosofi “Everyone has their own story” menjadi pengingat bahwa setiap kader memiliki cerita dan pengalaman unik yang dapat menjadi kekuatan kolektif apabila dipadukan melalui komunikasi yang intens.

Dalam pemaparannya, Abah Ifank memaparkan terkait pentingnya menikmati proses kaderisasi dalam jamiyyah. Ia menyampaikan secara langsung,
“Jenjang kaderisasi di Jamiyyah itu layaknya jenjang karir yang harus dinikmati perlahan agar dapat dikenang sebagai sebuah mahakarya perjalanan hidup. Pengalaman melewati seluruh tahapan kaderisasi memberikan perspektif yang jauh lebih mendalam dibandingkan mereka yang hanya mengikutinya secara parsial. Berjamiyyah adalah seni bersama dalam perbedaan.”
Selain itu, Abah Ifank juga menjelaskan bahwa menjadi “muda” bukan sekadar persoalan usia, tetapi berkaitan dengan kesiapan mental dalam menjalani peran dakwah dan organisasi. Ia menyebutkan bahwa kader muda harus memiliki kemampuan mobilisasi dan eksplorasi untuk bergerak serta menjelajahi ruang-ruang dakwah baru.
Ia juga menerangkan bahwa konsolidasi menjadi salah satu tahapan penting dalam proses kaderisasi, yakni kemampuan untuk memenuhi janji diri sekaligus menyelaraskan potensi internal organisasi. Menurutnya, fase tertinggi adalah flourish, ketika kehadiran seorang kader mampu memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.
Diskusi semakin berkembang ketika peserta membahas kebahagiaan dalam berorganisasi. Ketua PD Pemuda menyampaikan bahwa jamiyyah harus menjadi ekosistem mutual support yang tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan kewajiban formal berdasarkan QA/QD, tetapi juga mampu menghadirkan rasa saling mendukung antaranggota.
Pandangan tersebut turut diperkuat oleh Ketua HIMI yang mengaku bahagia dapat bertemu seluruh kader dalam forum tersebut. Ia juga menyampaikan secara jujur bahwa seorang pemimpin pun terkadang membutuhkan “rangkulan” di tengah tanggung jawabnya merangkul anggota.
Meskipun terdapat perbedaan karakter akibat rentang usia yang beragam, seluruh peserta sepakat bahwa semangat untuk terus bertumbuh dalam dakwah menjadi perekat utama kebersamaan. Kegiatan Seminar Kejam’iyyahan FamCamp Jamiyyah pun ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadikan perbedaan pandangan kader sebagai kekayaan intelektual dalam perjalanan organisasi.
Kontributor: Putri Latifah
(Bidgar Lingkungan Hidup PD Pemudi PERSIS Kabupaten Bandung)

