Kalimat yang populer di masyarakat ketika menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah Marhaban Ya Ramadhan yang artinya Selamat Datang wahai Ramadhan. Ucapan selamat ini biasanya dikemas dalam bentuk salam penghormatan, doa serta permohonan maaf lahir dan batin. Namun, yang lebih penting dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah bukan hanya menyambutnya dengan berbagai ucapan selamat saja, melainkan bagaimana mempersiapkan langkah-langkah strategis dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan ini dengan berbagai amal ibadah, khususnya shiyam atau shaum (puasa) Ramadhan.
Kewajiban berpuasa bagi orang-orang yang beriman ini didasarkan kepada Al-Quran. Allah Swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah (2): 183).
Dalam ayat ini Allah mewajibkan shaum kepada orang-orang yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Al-Quran menjelaskan,
Demikianlah tampak jelas tujuan yang besar dari shaum yaitu takwa (kepada Allah). Takwa itulah yang membangkitkan kesadaran dalam hati sehingga mau menunaikan kewajiban ini sebagai ketaatan kepada Allah dan untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Takwa inilah yang menjaga hati sehingga tidak merusak puasanya dengan maksiat, walaupun cuma berupa getaran hati untuk berbuat maksiat. Orang-orang yang diajak bicara oleh Al-Quran ini mengetahui kedudukan takwa di sisi Allah dan mengetahui bobotnya dalam timbangan-Nya. Maka, takwa merupakan puncak ketinggian rohani mereka, dan shaum ini merupakan salah satu alatnya dan jalan untuk mencapainya- Oleh karena itu, diangkatlah di depan mata mereka tujuan yang jelas yang sedang mereka tuju lewat jalan shiyam ini, yaitu, “ … agar kamu bertakwa.”
Imam Al-Ghazali di dalam kitab Minhajul ‘Abidin menjelaskan, Takwa di dalam Al-Quran mengandung tiga makna, yaitu:
Pertama, takut dan ngeri. Allah berfirman:
وَّاِيَّايَ فَاتَّقُوْنِ
Artinya: ” … dan bertakwalah hanya kepada-Ku.” (Q.S. Al-Baqarah: 41)
Firman Allah Swt.:
وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
Artinya: “Dan takutlah pada suatu hari (di mana) kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).” (Q.S. Al-Baqarah: 281)
Kedua, taat dan ibadah. Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali Imran: 102)
Ibnu Abbas berkata: “Taatlah kepada Allah dengan taat yang sebenar-benarnya.” Sedangkan menurut Mujahid, Ayat-ayat ini menyimpan arti bahwa sesungguhnya Allah harus selalu ditaati dan tidak didurhakai: diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri.”
Ketiga, membersihkan hati dari dosa. Dan inilah makna takwa yang sebenarnya, bukan yang pertama dan kedua. Tidakkah engkau melihat bahwa Allah berfirman:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَخْشَ اللّٰهَ وَيَتَّقْهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفَاۤىِٕزُوْنَ
Artinya: “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (Q.S. An-Nur: 52)
Imam Al-Ghazali menyatakan, Allah menyebutkan taat dan takut, kemudian menyebutkan takwa. Dengan begitu engkau menjadi tahu bahwa hakekat takwa di sini bermakna selain taat dan takut, yaitu membersihkan hati dari maksiat.
Bulan Ramadhan sebagai bulan penuh rahmat dan berkah sangat menciptakan atmosfer religi spiritual. Shaum di bulan Ramadhan selama sebulan penuh sarat dengan latihan-latihan spiritual untuk memperoleh martabat yang lebih tinggi di sisi Allah.
Oleh karena itu, marilah kita sambut dan isi bulan Ramadhan ini dengan mengoptimalkan berbagai amal ibadah, khususnya shaum Ramadhan sebagai media menggapai derajat takwa sehingga kita layak mendapatkan gelar muttaqin. Wallahu a’lam bi al-shawwab


2 Comments
Alhamdulillah…
Subhanallah