PERSISJABAR.OR.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengapresiasi kontribusi Persatuan Islam (Persis) dalam pembangunan bangsa, khususnya melalui penyelenggaraan pendidikan secara mandiri. Menurutnya, peran organisasi Islam dalam mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan telah memberikan sumbangan besar bagi kemajuan Indonesia.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan sambutan dalam kegiatan NGABARIS (Ngaji Bareng Keluarga Persatuan Islam) ke-2 yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Persis Jawa Barat di Masjid Raya Al Jabbar, Bandung, Ahad (8/11/2026).

Abdul Mu’ti menyebut peran umat Islam dalam perjalanan Indonesia dapat dilihat dari tiga aspek, yakni sejarah, demografi, dan kontribusi sosial dalam menyelesaikan persoalan bangsa.
Dari aspek sejarah, kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari perjuangan umat Islam, termasuk tokoh-tokoh Persis. Perjuangan tersebut tidak hanya berlangsung melalui perlawanan fisik terhadap penjajah, tetapi juga lewat organisasi, gerakan sosial, dan pendidikan.
Ia menilai, keterlibatan masyarakat dalam mendirikan serta mengelola lembaga pendidikan menjadi salah satu bentuk sumbangan penting umat Islam bagi negara. Berbeda dengan sejumlah negara yang penyelenggaraan pendidikannya banyak dikelola kerajaan atau pemerintah, pendidikan di Indonesia juga tumbuh melalui inisiatif masyarakat dan organisasi swasta.

Dari aspek demografi, umat Islam merupakan kelompok mayoritas di Indonesia. Karena itu, kualitas umat Islam turut memengaruhi kualitas bangsa. Potensi tersebut perlu dikelola bersama agar dapat memberikan sumbangan lebih besar bagi kemajuan negara.
Adapun dari aspek sosial, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat dan ikut menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul.
Abdul Mu’ti juga menyoroti kondisi ruang publik yang belakangan kerap diwarnai kegaduhan. Perbedaan pandangan sering kali berkembang menjadi pertentangan, bahkan tidak jarang masyarakat terjebak dalam situasi saling mengadu domba hingga kesulitan membedakan informasi yang benar dan keliru.
Dalam situasi tersebut, ia mengajak umat Islam kembali pada pesan persatuan dalam Al-Qur’an surah Ali Imran ayat 103. Ayat tersebut menjadi pembuka dalam rangkaian kegiatan NGABARIS ke-2.
Ia turut mengutip pesan Presiden Prabowo Subianto tentang pentingnya menjaga persatuan sebagai modal politik untuk membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju.
“Al-Qur’an mengajarkan agar kita senantiasa bersatu dan berpegang teguh pada agama Allah serta tidak bercerai-berai. Ikhtilaf tidak boleh dihindari, tetapi tafarruq harus dihindari,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, perbedaan pendapat atau ikhtilaf merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya berujung pada tafarruq atau perpecahan yang merusak persatuan.
Selain persoalan kebangsaan dan keumatan, Abdul Mu’ti memaparkan sejumlah agenda Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dalam mempercepat transformasi pendidikan nasional. Program tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto, yakni mewujudkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul.
Ia menjelaskan, transformasi pendidikan mencakup empat aspek pembangunan infrastruktur. Pertama, infrastruktur fisik melalui revitalisasi sekolah, digitalisasi pendidikan, serta penyediaan sarana dan prasarana untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Kedua, infrastruktur pedagogis yang berkaitan dengan peningkatan kualifikasi, kompetensi, dan kesejahteraan guru. Ketiga, infrastruktur kultural melalui penguatan pendidikan karakter. Keempat, infrastruktur manajerial berupa pembenahan tata kelola penyelenggaraan pendidikan agar layanan pendidikan bermutu dapat diakses secara lebih luas.
“Bagaimana kita mengembangkan satu sistem tata kelola dalam penyelenggaraan pendidikan yang mendukung terwujudnya pendidikan bermutu untuk semua,” kata Abdul Mu’ti.
Salah satu program yang dijalankan Kemendikdasmen ialah Revitalisasi Satuan Pendidikan. Pada 2025, program tersebut menjangkau 16.167 satuan pendidikan, melampaui target awal sebanyak 10.669 sekolah.
Program revitalisasi tersebut mencakup pembenahan sarana dan prasarana sekolah untuk mendukung kegiatan belajar mengajar yang lebih aman dan nyaman.
Ia mengapresiasi keberadaan organisasi masyarakat seperti Persis yang turut mengambil bagian dalam penyelenggaraan pendidikan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat dan organisasi keagamaan tetap dibutuhkan dalam memperluas akses serta meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Lewat kegiatan NGABARIS II ini, ia memiliki harapan tradisi keilmuan, pendidikan, dan persatuan yang selama ini menjadi bagian dari gerakan Persis terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

